Sepeda Tua
Sepeda Tua

Cerpen: Lelaki Rumput
Dua orang anak kecil berdiri di samping sepeda tua. satu orang naik ke atas jok, kakinya yang pendek berusaha mencapai pedal, satu orang lagi memeganginya agar tidak jatuh. Pagi masih tersaput kabut, gerimis turun. kedua bocah itu bermain di dalam rumah. Dari arah dapur terdengar suara mak Lenti, nenek mereka.
"Emak bilang apa! Hati - hati kalau main di dekat si jendral, kalau abah tahu si jendral jatuh, kalian bisa bisa dimarahi!" Mak Lenti yang tengah sibuk membakar singkong di perapian melangkah menuju kamar. Disana ia dapati suaminya, Mbah Soleh tengah membenarkan letak sepeda tua kesayangan.
"Sudah pulang dari mesjid Mbah? Mak sudah bilang pada anak-anak agar jangan main di dekat si jendral".

Cerpen: Lelaki Rumput
Dua orang anak kecil berdiri di samping sepeda tua. satu orang naik ke atas jok, kakinya yang pendek berusaha mencapai pedal, satu orang lagi memeganginya agar tidak jatuh. Pagi masih tersaput kabut, gerimis turun. kedua bocah itu bermain di dalam rumah. Dari arah dapur terdengar suara mak Lenti, nenek mereka.
"Emak bilang apa! Hati - hati kalau main di dekat si jendral, kalau abah tahu si jendral jatuh, kalian bisa bisa dimarahi!" Mak Lenti yang tengah sibuk membakar singkong di perapian melangkah menuju kamar. Disana ia dapati suaminya, Mbah Soleh tengah membenarkan letak sepeda tua kesayangan.
"Sudah pulang dari mesjid Mbah? Mak sudah bilang pada anak-anak agar jangan main di dekat si jendral".
Sepeda Tua
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgz-y0hn3jhjHX-45e5Vy0zVurlfsxMgeW3eLr8v8-UxwcTWJxq_Gm7HsMaKa3SP5W7L8MJc5gLRjBHBJJvO7l7ZU3vIu8HtUfDhrHzjluf7NrOUSW0sEneRXtjHSoM8jDdWClA6TQ5/s72-c/0747142p.jpg
